WONOGIRI, JAWA TENGAH – Surutnya air Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, kembali menyingkap jejak masa lalu yang selama puluhan tahun terendam. Salah satu yang menarik perhatian adalah kemunculan jembatan kuno dengan bentuk lengkungan yang mengingatkan pada arsitektur jembatan bergaya Romawi.
Fenomena ini menjadi perhatian masyarakat karena memperlihatkan kembali bangunan lama yang sebelumnya berada di bawah permukaan air waduk. Kemunculan jembatan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa kawasan yang kini menjadi waduk dahulu merupakan wilayah permukiman dan jalur penghubung antarkawasan.
Jembatan Tua Kembali Terlihat Saat Air Menyusut
Salah satu bangunan yang kembali terlihat adalah Jembatan Lengkong, yang berada di kawasan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri. Jembatan tersebut disebut sebagai peninggalan era kolonial Belanda dan dahulu berfungsi sebagai penghubung jalur perjalanan antara wilayah Wuryantoro dan Wonogiri.
Menurut keterangan warga setempat yang diberitakan media, jembatan itu biasanya terendam ketika permukaan Waduk Gajah Mungkur berada dalam kondisi normal. Kedalaman air di sekitar bangunan bahkan dapat mencapai lebih dari enam meter.
Namun, ketika debit air menyusut akibat kemarau panjang, sebagian struktur jembatan kembali terlihat. Sisa jalan yang terhubung di kedua sisinya juga mulai tampak, memperlihatkan gambaran jalur transportasi yang pernah digunakan masyarakat pada masa lalu.
Meski demikian, kondisi jembatan belum sepenuhnya terbuka. Sebagian bagiannya masih tertutup air dan lumpur, sementara area di bawahnya menyimpan bekas aliran sungai yang cukup dalam.
Bukan Sekadar Bangunan Tua
Kemunculan jembatan dari dasar waduk bukan hanya menarik dari sisi bentuk arsitektur. Bangunan tersebut juga menjadi petunjuk tentang kehidupan masyarakat sebelum pembangunan Waduk Gajah Mungkur.
Kawasan yang kini tergenang dahulu mencakup permukiman, lahan pertanian, jalan, dan berbagai fasilitas yang mendukung aktivitas warga. Ketika waduk dibangun, banyak wilayah tersebut berubah menjadi kawasan perairan.
Pembangunan Waduk Gajah Mungkur berlangsung pada 1976–1981. Proyek ini mengakibatkan puluhan desa di wilayah Wonogiri harus ditinggalkan dan ditenggelamkan, sementara sebagian penduduk mengikuti program transmigrasi atau bedol desa.
Karena itu, setiap kali permukaan air waduk menyusut, berbagai peninggalan masa lalu berpotensi kembali terlihat. Selain jembatan, sejumlah laporan juga mendokumentasikan kemunculan kompleks makam kuno dan bekas permukiman yang dahulu berada di kawasan tersebut.
Kondisi Jembatan Perlu Diperhatikan
Walaupun terlihat kembali, jembatan kuno tersebut tidak serta-merta aman untuk dilalui. Kondisi struktur, permukaan yang berlumpur, serta bekas aliran sungai di bawahnya perlu menjadi perhatian.
Masyarakat yang ingin melihat langsung lokasi diimbau berhati-hati dan tidak memaksakan diri melintasi bagian yang belum dinyatakan aman. Kondisi permukaan waduk juga dapat berubah mengikuti cuaca dan pengelolaan air.
Kemunculan bangunan lama ini menjadi pengingat bahwa di balik hamparan Waduk Gajah Mungkur tersimpan sejarah kehidupan masyarakat yang pernah tumbuh di kawasan tersebut.
Video Penampakan Jembatan dari Kanal YouTube Wong Hunung
Penampakan jembatan kuno yang muncul saat Waduk Gajah Mungkur menyusut juga dapat disimak melalui video dari kanal YouTube Wong Gunung.
Video tersebut berjudul “MUNCUL JEMBATAN JAMAN KERAJAAN TANPA BESI DAN ASPAL DI WADUK GAJAH MUNGKUR YANG KERING”. Tayangan ini menjadi referensi visual bagi masyarakat yang ingin melihat kondisi kawasan waduk saat air menyusut dan peninggalan lama kembali terlihat.
Tonton videonya di sini: https://youtu.be/TvFxc7Idxt4
Kemunculan jembatan kuno ini menjadi pengingat bahwa perubahan bentang alam tidak selalu menghapus jejak masa lalu. Ketika air surut, sejarah yang selama puluhan tahun tersembunyi dapat kembali terlihat dan membuka ruang untuk mengenali perjalanan masyarakat Wonogiri dari masa ke masa.
Sumber referensi: Kompas.com, DetikJateng/DetikTravel, serta video YouTube kanal Wong Gunung.