Gunungkidul – Warga Padukuhan Tonggor, Kalurahan Pacarejo, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, dikabarkan menemukan benda yang diduga merupakan Gelu pada Kamis (23/7/2026). Penemuan tersebut kembali mengundang perhatian masyarakat karena Gelu telah lama menjadi bagian dari cerita rakyat dan kepercayaan yang berkembang di sejumlah wilayah Gunungkidul.
Di kalangan masyarakat setempat, mitos Pulung Gantung telah diwariskan secara turun-temurun dan sering dikaitkan dengan kasus bunuh diri. Salah satu unsur yang kerap disebut dalam cerita tersebut adalah keberadaan Gelu, yakni gumpalan tanah berbentuk bulat alami yang dipercaya memiliki makna sakral.
Menurut penuturan sejumlah sesepuh adat, Gelu secara tradisional digunakan sebagai pengganjal jenazah saat proses pemakaman. Dalam kepercayaan masyarakat, Gelu diyakini berada tepat di bawah posisi jasad yang ditemukan meninggal akibat gantung diri.
Konon, terdapat tata cara khusus untuk menemukan Gelu. Prosesi pencarian harus dipimpin oleh pemuka adat dengan doa-doa tertentu dan dilakukan sebelum jenazah diturunkan. Jika penggalian dilakukan setelah jenazah dipindahkan, Gelu dipercaya sudah tidak dapat ditemukan. Jumlahnya pun tidak selalu sama, bisa satu, dua, atau dalam kasus yang dianggap langka mencapai tiga butir.
Meski demikian, hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang membenarkan bahwa Gelu memiliki hubungan dengan penyebab seseorang meninggal karena bunuh diri ataupun dengan keberadaan Pulung Gantung. Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan dan folklor yang hidup di tengah masyarakat Gunungkidul.
Para budayawan menilai cerita mengenai Gelu dan Pulung Gantung merupakan bagian dari warisan budaya yang mencerminkan cara masyarakat masa lalu memaknai berbagai peristiwa yang sulit dijelaskan. Di sisi lain, para ahli kesehatan jiwa menegaskan bahwa bunuh diri merupakan persoalan yang kompleks dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi psikologis, sosial, ekonomi, hingga lingkungan.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk memandang kisah mengenai Gelu sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal, tanpa mengabaikan pentingnya pendekatan ilmiah dan kesehatan mental dalam memahami kasus bunuh diri.
Catatan Redaksi: Artikel ini disusun semata-mata untuk mengangkat nilai budaya, tradisi lisan, dan kearifan lokal masyarakat Gunungkidul. Isi artikel tidak dimaksudkan untuk membenarkan kepercayaan tertentu, menginspirasi, mengajak, maupun mendorong pembaca meniru tindakan yang berbahaya. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami tekanan psikologis atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, atau layanan bantuan profesional.